Program ini tidak hanya mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga mengembangkan keterampilan kewirausahaan, kreativitas, dan penerapan ekonomi sirkular di kalangan peserta didik.
Nama HUP berasal dari istilah bahasa Tetun, Hudi Kakun, yang berarti kulit pisang. Dengan mengusung semangat "from waste to wonder", proyek tersebut mengintegrasikan pembelajaran sains, Bahasa Indonesia, keterampilan praktis, serta konsep keberlanjutan dalam kegiatan belajar mengajar.
Program HUP kini berkembang menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat. Produk hasil olahan limbah dimanfaatkan di dapur sekolah, dipasarkan melalui NTT Mart, digunakan oleh petani di kawasan perbatasan, hingga dipasarkan melalui koperasi setempat.
Pelaksanaan program melibatkan siswa, guru, orang tua, petani, pelaku usaha, hingga masyarakat di wilayah perbatasan dengan Timor-Leste. Hingga saat ini, lebih dari 1.000 orang telah merasakan manfaat program tersebut, mulai dari meningkatnya literasi lingkungan, pemahaman ekonomi sirkular, hingga tumbuhnya semangat berwirausaha.
Di balik keberhasilan tersebut, SMP IL Kapten Fatubaa menghadapi berbagai keterbatasan. Sekolah yang berada di kawasan perbatasan terpencil itu memiliki akses infrastruktur yang terbatas. Para siswa harus menempuh perjalanan sekitar 12 kilometer, melalui jalan berbatu dan menyeberangi sungai selebar sekitar 48 meter tanpa jembatan untuk mengikuti kegiatan belajar setiap hari.
Komentar