Beranda
Seputar Publik / Berita

SMP di Perbatasan Indonesia Raih Juara Asia Pasifik 2026, Inovasi Limbah Kulit Pisang Jadi Es Krim dan Pupuk Bawa Rekor Internasional

SMP IL Kapten Fatubaa di wilayah perbatasan Indonesia meraih Juara Utama AIA Healthiest Schools Competition 2026 tingkat Asia Pasifik melalui inovasi pengolahan limbah kulit pisang menjadi produk bernilai ekonomi dan ramah lingkungan.
Guru dan siswa SMP IL Kapten Fatubaa menunjukkan hasil inovasi Huka Upcycling Project (HUP), program pengolahan limbah kulit pisang menjadi es krim, pupuk kompos, dan pupuk organik cair yang mengantarkan sekolah tersebut meraih Juara Utama AIA Healthiest Schools Competition 2026 tingkat Asia Pasifik. Guru dan siswa SMP IL Kapten Fatubaa menunjukkan hasil inovasi Huka Upcycling Project (HUP), program pengolahan limbah kulit pisang menjadi es krim, pupuk kompos, dan pupuk organik cair yang mengantarkan sekolah tersebut meraih Juara Utama AIA Healthiest Schools Competition 2026 tingkat Asia Pasifik.

Seputarpublik.com || JAKARTA – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dunia pendidikan Indonesia. SMP IL Kapten Fatubaa, yang berada di Desa Fatubaa, wilayah perbatasan Indonesia, berhasil meraih Juara Utama AIA Healthiest Schools Competition 2026 tingkat Asia Pasifik berkat inovasi mengolah limbah kulit pisang menjadi berbagai produk bernilai guna.

Atas pencapaian tersebut, sekolah ini memperoleh hadiah sebesar US$40.000 atau sekitar Rp650 juta yang akan dimanfaatkan untuk memperkuat program kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan di lingkungan sekolah.

Penghargaan diumumkan dalam seremoni regional yang berlangsung di Bangkok, Thailand, pada 8 Juli 2026. SMP IL Kapten Fatubaa terpilih sebagai pemenang utama setelah menyisihkan hampir 1.000 karya dari sembilan negara di kawasan Asia Pasifik, sekaligus menjadi jumlah partisipasi tertinggi sejak kompetisi tersebut pertama kali diselenggarakan.

Prestasi tersebut diraih melalui Huka Upcycling Project (HUP), sebuah program yang mengubah limbah kulit pisang menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti es krim, pupuk kompos, dan pupuk organik cair.

Program ini tidak hanya mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga mengembangkan keterampilan kewirausahaan, kreativitas, dan penerapan ekonomi sirkular di kalangan peserta didik.

Nama HUP berasal dari istilah bahasa Tetun, Hudi Kakun, yang berarti kulit pisang. Dengan mengusung semangat "from waste to wonder", proyek tersebut mengintegrasikan pembelajaran sains, Bahasa Indonesia, keterampilan praktis, serta konsep keberlanjutan dalam kegiatan belajar mengajar.

Program HUP kini berkembang menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat. Produk hasil olahan limbah dimanfaatkan di dapur sekolah, dipasarkan melalui NTT Mart, digunakan oleh petani di kawasan perbatasan, hingga dipasarkan melalui koperasi setempat.

Pelaksanaan program melibatkan siswa, guru, orang tua, petani, pelaku usaha, hingga masyarakat di wilayah perbatasan dengan Timor-Leste. Hingga saat ini, lebih dari 1.000 orang telah merasakan manfaat program tersebut, mulai dari meningkatnya literasi lingkungan, pemahaman ekonomi sirkular, hingga tumbuhnya semangat berwirausaha.

Di balik keberhasilan tersebut, SMP IL Kapten Fatubaa menghadapi berbagai keterbatasan. Sekolah yang berada di kawasan perbatasan terpencil itu memiliki akses infrastruktur yang terbatas. Para siswa harus menempuh perjalanan sekitar 12 kilometer, melalui jalan berbatu dan menyeberangi sungai selebar sekitar 48 meter tanpa jembatan untuk mengikuti kegiatan belajar setiap hari.

Selain keterbatasan akses, sekolah juga menghadapi tantangan berupa minimnya ketersediaan air bersih, rendahnya literasi lingkungan, serta pengelolaan sampah organik yang belum optimal. Kondisi tersebut menjadi latar belakang lahirnya inovasi pemanfaatan limbah kulit pisang menjadi produk yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Guru SMP IL Kapten Fatubaa, Antonius Kapitan, mengaku bangga atas pencapaian yang diraih para siswa.

> "Kami para guru, terutama para siswa, hanya berusaha memberikan yang terbaik. Kami mencoba mengubah kulit pisang menjadi produk seperti es krim, pupuk cair, dan pupuk kompos," ujarnya.

Menurut Antonius, penghargaan tersebut bukan menjadi tujuan akhir. Sekolah berkomitmen untuk terus mengembangkan program agar manfaatnya semakin luas bagi masyarakat.

> "Kami punya tugas melanjutkan proyek ini karena tujuan kegiatan ini bukan untuk memenangkan penghargaan, melainkan untuk masa depan para siswa dan komunitas di sekitar kami. Kami ingin terus berproduksi dan memberikan manfaat kepada lebih banyak masyarakat," katanya.

Head Judge AIA Healthiest Schools Competition sekaligus Chief Marketing Officer AIA Group, Stuart A. Spencer, mengatakan kompetisi ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk menerapkan pengetahuan mengenai pola hidup sehat ke dalam tindakan nyata.

Menurutnya, berbagai negara di Asia Pasifik menghadapi tantangan berupa rendahnya aktivitas fisik, penurunan kualitas nutrisi, hingga meningkatnya tekanan terhadap kesehatan mental anak muda sehingga pendidikan menjadi faktor penting dalam membangun kebiasaan hidup sehat.

> "Program ini tidak hanya meningkatkan kesadaran, tetapi juga mendorong perubahan perilaku yang nyata dan berkelanjutan. Para siswa mengembangkan kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan kerja sama," ujarnya.

Sementara itu, Group Chief Executive and President AIA Group, Lee Yuan Siong, menilai keberhasilan program terletak pada kemampuannya mengubah pembelajaran mengenai kesehatan menjadi kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kompetisi AIA Healthiest Schools kini memasuki tahun keempat penyelenggaraannya dan diikuti peserta dari sembilan negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Kamboja, Sri Lanka, Hong Kong SAR, dan Tiongkok. Program ini mendorong peserta didik berusia 5 hingga 16 tahun menerapkan gaya hidup sehat melalui empat pilar utama, yaitu pola makan sehat, gaya hidup aktif, kesehatan mental, dan keberlanjutan.

Ke depan, SMP IL Kapten Fatubaa menargetkan memperoleh sertifikasi BPOM, mengembangkan paten produk, memperluas implementasi Huka Upcycling Project (HUP) ke sekolah-sekolah lain, serta memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai mitra lintas batas.

Prestasi yang diraih sekolah di wilayah perbatasan ini menjadi bukti bahwa keterbatasan tidak menghalangi lahirnya inovasi. Melalui pemanfaatan limbah kulit pisang, SMP IL Kapten Fatubaa berhasil menghadirkan solusi berkelanjutan yang memberi manfaat bagi masyarakat sekaligus mengharumkan nama Indonesia di tingkat Asia Pasifik.(*/hel)