Selain keterbatasan akses, sekolah juga menghadapi tantangan berupa minimnya ketersediaan air bersih, rendahnya literasi lingkungan, serta pengelolaan sampah organik yang belum optimal. Kondisi tersebut menjadi latar belakang lahirnya inovasi pemanfaatan limbah kulit pisang menjadi produk yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Guru SMP IL Kapten Fatubaa, Antonius Kapitan, mengaku bangga atas pencapaian yang diraih para siswa.
> "Kami para guru, terutama para siswa, hanya berusaha memberikan yang terbaik. Kami mencoba mengubah kulit pisang menjadi produk seperti es krim, pupuk cair, dan pupuk kompos," ujarnya.
Menurut Antonius, penghargaan tersebut bukan menjadi tujuan akhir. Sekolah berkomitmen untuk terus mengembangkan program agar manfaatnya semakin luas bagi masyarakat.
> "Kami punya tugas melanjutkan proyek ini karena tujuan kegiatan ini bukan untuk memenangkan penghargaan, melainkan untuk masa depan para siswa dan komunitas di sekitar kami. Kami ingin terus berproduksi dan memberikan manfaat kepada lebih banyak masyarakat," katanya.
Head Judge AIA Healthiest Schools Competition sekaligus Chief Marketing Officer AIA Group, Stuart A. Spencer, mengatakan kompetisi ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk menerapkan pengetahuan mengenai pola hidup sehat ke dalam tindakan nyata.
Komentar