Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Supriadi, mengatakan pola kemitraan tersebut telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan petani sekaligus menggerakkan perekonomian di berbagai sentra perkebunan sawit di Provinsi Riau.
Menurutnya, hubungan antara Aspekpir dan PTPN IV PalmCo tidak hanya sebatas kerja sama bisnis, tetapi juga membangun ikatan sosial yang kuat di tengah masyarakat perkebunan.
Di sisi lain, Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyuda, menegaskan bahwa meningkatnya kebutuhan minyak sawit sebagai bahan baku pangan dan energi menjadikan kemitraan perusahaan dengan petani sebagai faktor strategis dalam menjaga keberlanjutan pasokan Crude Palm Oil (CPO) nasional.
Ia menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas kebun rakyat melalui kemitraan akan memperkuat pasokan CPO domestik untuk mendukung implementasi program mandatori biodiesel B50 yang tengah dipersiapkan pemerintah.
> "Keberhasilan program B50 tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi perusahaan, tetapi juga pada kemampuan jutaan petani sawit rakyat dalam meningkatkan produktivitas serta mempercepat peremajaan kebun secara berkelanjutan," ujar Arya.
Dengan luas perkebunan rakyat yang mencakup lebih dari 40 persen total areal sawit nasional, petani memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan pasokan bahan baku industri pangan dan energi.
Melalui penguatan kemitraan yang saling menguntungkan, Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV PalmCo menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat, memperkuat ketahanan energi nasional, mendorong kesejahteraan pekebun, serta membangun ekosistem industri sawit Indonesia yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.(Adv)*
Komentar